Showing posts with label Pengalaman Bumil. Show all posts
Showing posts with label Pengalaman Bumil. Show all posts
Sabtu, 13 September 2014

Hari ini adalah hari ke-14 setelah jadwal haid yang seharusnya, tapi belum ada tanda-tanda akan haid. Aku dan suami adalah pasangan pengantin baru. Haid terakhirku datang pada malam setelah kami melangsungkan akad nikah di kediaman kedua orangtuaku, Kamis malam selepas Isya tanggal 31 Juli 2014. Kami yang berprofesi sebagai guru honorer di sekolah negeri dan swasta di kota kami, diberikan cuti menikah selama satu minggu. 

Aku masih berpikir bisa jadi stres memicu terlambatnya haid karena jam mengajarku begitu padat. Setelah kucoba tes pakai testpack, tak sampai 2 menit keluar hasilnya. Ada dua garis yang masih samar. Aku berteriak kecil dalam hati, semua rasa campur aduk. Senang tak terkira, tapi di satu sisi juga merasa takut. Karena masih belum begitu percaya, esok kucoba lagi dengan urin pertama setelah bangun tidur.

***

Selasa, 16 September 2014

Tadi aku dan abang ke Klinik Bidan Mamit, tapi yang menjaga bukan Bidan Mamit melainkan asistennya, seorang bidan muda. Setelah kusampaikan keluhanku, bidan muda itu menanyakan testpack yang menunjukkan dua garis samar. Fiuh, untung saja kubawa. Setidaknya ini ada bukti yang bisa ditunjukkan. 

“Oo.. Ini masih samar, Bu. Jadi kalaupun hamil kemungkinan besar janinnya masih lemah. Hati-hati, masih rawan. Jaga kesehatan, jangan terlalu sibuk dan lelah. Untuk memastikannya, coba seminggu ke depan testpack lagi lalu hasilnya bawa ke sini. Kemungkinan kalau memang hamil, garisnya sudah lebih terang.” 

***

Senin, 29 September 2015

Aku dan abang kembali mengunjungi Klinik Bidan Mamit. Tak lupa kubawa hasil testpack terakhirku, garisnya sudah lebih jelas dibanding yang pertama dan kedua. 

“Nah, sudah jelas garisnya. Insyaa Allah ini memang hamil dan janinnya sudah mulai kuat.“

Berdasar hasil pemeriksaan, janinku berumur kurang lebih 8 minggu. EDD (Estimated Delivery Date) atau biasa disebut bidan Hari Perkiraan Lahir (HPL) adalah 7 Mei 2015. Bayangkan, Mei nanti aku akan menimang bayi.

Pulangnya Abang membelikan susu ibu hamil merek Prenagen dengan label Mommy, lalu aku dan Abang mampir ke rumah Mamak-Bapak untuk mengabarkan bahwa sudah ada dedek bayi di perutku. Pulang ke rumah pun langsung kukabarkan hal ini pada ibu mertua. Beliau senyam-senyum gembira, bersyukur sekali. 

***

Minggu, 5 Oktober 2014

Hari ini Idul Adha. Kondisiku sebagai calon ibu yang sedang hamil muda ternyata membuatku drop. Sudah hampir 2 minggu aku sering absen mengajar. Kubaca-baca referensi, sepertinya aku mengalami hyperemesis, mual muntah berlebihan. Ternyata aku dan Abang salah beli susu. Tawa kami meledak saat ngecek gambar di dus susu yang kami beli beberapa waktu lalu. Pada cover susu yang kami beli, ada gambar ibu hamil dengan perut begitu besar, sedangkan perutku yang hamil 8 minggu ini belum ada tonjolan apapun. Akhirnya aku minta dibelikan Abang susu hamil yang berlabel emesis untuk kehamilan usia muda yang masih morning sickness. 

Kemarin petang, aku dan abang pertama kalinya USG sekaligus konsultasi ke dokter spesialis kandungan. Saat melihat janinku yang masih berupa kantong, rasanya amazing. Beginikah hamil itu? Beginikah rasanya saat melihat calon bayi darah daging kita di dalam rahim? Panjangnya sekitar 36 mm, masih sangat kecil sekali. Aku diberikan vitamin dan obat untuk pereda mual. Sejujurnya kukatakan pada Dokter Suandi bahwa aku tidak bisa makan obat akibat mual muntah berlebihan. Berat badanku juga turun, tak ada makanan yang masuk ke dalam lambungku. Setiap makan, selalu dimuntahkan lagi, sampai muntahku berwarna kuning kehijauan saking kosongnya perutku. 

***

Jumat, 10 Oktober 2014

Sudah seminggu ini mual muntahku sangat berlebihan. Badan sampai lemas tak bertenaga. Aku tak sanggup untuk berangkat ke sekolah apalagi mengajar di kelas. Tidak ada satupun makanan yang masuk, bahkan air putih pun termuntahkan. Aku tak bisa minum susu, tak bisa mencium bau bawang ditumis, juga tidak bisa makan makanan yang banyak bumbu. Banyak yang menyarankan minum air hangat, tapi ternyata perutku juga tak menerima. Akhirnya keluarga berinisiatif mengajakku ke bidan untuk diinfus saja. 

Dalam sejam, aku sudah menghabiskan hampir 1 botol infus. Rasanya sudah sedikit bertenaga dan bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air kecil. Aku jadi lapar dan ingin makan roti yang biasanya kumuntahkan. Sepanjang mataku tak terpejam, kuhabiskan beberapa potong roti cokelat. Alhamdulillah, aku baikan. Kata bidan, esok pagi sudah bisa pulang setelah habis 5 botol infus dan disuntik vitamin. 

***

Sabtu, 18 Oktober 2014

Semalam di Klinik Bidan Aish seminggu lalu sudah menghabiskan dana yang tidak sedikit, sekitar Rp 600.000,-. Sayangnya malam ini kondisiku mengharuskan kembali merasakan tusukan jarum infus. Aku hanya bisa pasrah saat Abang meminta tolong sahabatnya untuk mengantarku ke Rumah Sakit Medika Stannia menggunakan ambulance yang ada di rumah tetangga. Badan ini sudah tidak sanggup lagi bertahan sendiri, jalanku sempoyongan. Semalam di Bidan Aish hanya menyegarkan badanku sehari saja. Setelahnya aku kembali drop.

Abang, Dek Kiki, Mamak, Ibu, semua bergantian menjagaku. Makanan rumah sakit yang membosankan dan tidak berasa tiba-tiba membuatku ingin makan ikan goreng sambal buatan Mamak. Padahal sejak hyperemesis, aku tak bisa makan yang berbau, apalagi bau amis dan bau bawang. Tanpa banyak waktu, Mamak membawa semua makanan request anak pertamanya ini. Kemudian kusantap dengan lahap. Segala puji bagi Allah, setiap diinfus sudah tidak pernah muntah lagi. Yang kukhawatirkan adalah sepulang dari rumah sakit, aku akan mual muntah berlebih kembali. 

***

Selasa, 17 Februari 2015

Janinku sudah lincah. Sehari bisa amat sering jedag-jedug. Apalagi kalau malam akan tidur, Abang yang membahasakan dirinya dengan sebutan Ayah menyapanya.

“Assalamu’alaikum Dedek, anak Ayah... Lagi apa? Sudah bobo belum? Apa lagi main bola?” 

Kalau sudah disapa ayahnya seperti ini, aku hanya senyam-senyum. Sekejap kemudian pasti terasa kedutan keras, dedek tahu kalau dipanggil ayahnya. Abang menempelkan kepalanya di atas perutku untuk mendengar dan merasakan gerakan anaknya. Sambil mengajak cerita, bertanya banyak hal dan memberitahukan banyak hal. Dan selama diajak berbicara itulah perutku terasa berkedut-kedut keras. 

Hari ini periksa memakai USG lagi. Sambil berbaring, aku berusaha melihat ke arah komputer di sisi kanan kepalaku. Dokter menunjukkan usia kehamilan 27w5d, berat badanku sudah 50 kg. Bayi dalam kandunganku beratnya 1070 gram. 

“Tenang saja, Insyaa Allah semua bagus. Berat janin segitu normal di usia kehamilan 27 minggu. Nanti kalau sudah 7 bulan ke atas akan meningkat pesat. Jadi jangan khawatir. Bismillah tawakkaltu ‘alallah.” Dokter Suandi berusaha menenangkan Abang.

Setelah beranjak dari tempat tidur, aku tak lupa mengutarakan keluhan lebih detail tentang ketakutanku akan asam urat serta gusi berdarah. Dengan senyuman dan tutur lembut dokter kembali memberikan jawaban menenangkan.

“Itu biasa, memang bawaan bayi. Bukan asam urat, tapi memang sudah kodratnya seperti itu. Untuk gusi berdarah juga jangan khawatir, sebagian besar para ibu hamil mengalaminya. Kram di persendian dan gusi berdarah adalah pengaruh hormonal saat hamil, jadi jangan was-was. Bawa santai saja.“

Tanggal 7 Mei sudah sebentar lagi. Waktu berjalan tak akan terasa. Masih banyak yang mesti kami persiapkan sebagai calon Ibu dan Ayah muda. Doa-doa suci senantiasa kami haturkan kepada Allah, semoga Allah senantiasa mendengar lagi mengijabah doa-doa kami. Mamak, Bapak, Ayah dan Ibu juga sudah tak sabar menanti kehadiran buah hati kami. Semoga semua dilancarkan. Harapanku bisa melahirkan normal dan memberikan ASI sampai dua tahun. Semoga kami bisa menjadi panutan dan pendidik yang baik untuk buah hati kami. Semoga Allah ridhai. Semoga pula kami senantiasa menjadi orang-orang yang bersyukur dan terus bersyukur.

***

Dimuat dalam buku Nikmatnya Jadi Ibu (27 Aksara, 2015)
Penulis: Ria Hidayah, S. Pd., lahir di Belinyu, 26 Oktober 1990 adalah putri pertama dari 4 bersaudara pasangan Ridwan dan Yuniar dan istri dari Seftian Pramudya, S.Pd. (teman sekelas seperjuangan sejak kelas 1 SD hingga 3 SMA). Pecinta Qur’an, penyuka handicraft dan penggila Winnie the Pooh yang bercita-cita menjadi guru berprestasi, penulis terkenal, dan crafter berbakat ini sedang menunggu detik-detik kelahiran anak pertamanya. Alumni Strata 1 Prodi Pendidikan Biologi Universitas Sriwijaya tahun 2013 ini mengisi waktunya denganmengajar IPA, PAI, dan TIK di SMP N 1 Belinyu dan Matematika serta ekstrakulikuler Tilawah di MTs Al Istiqomah. Mengajar sambil berbisnis aneka kerajinan tangan serta macam-macam aktivitas menulis salah satunya cukup rutin mengisi blog. Antologi tentang Bumil dan Busui kali ini adalah antologi pertama yang dituliskan setelah menulis 59 antologi yang telah terbit dan vakum hampir 2 tahun. Pernah juara harapan 1 lomba karya tulis tingkat prov. Kep BABEL kelas 2 SMA, juara 5 event Hereafter Savings tema Kesetiaan dan Juara Favorit 1 event Momen Indahnya Kebersamaan. Domisili di Belinyu. Email r_ia_h@yahoo.co.id. Fb Muth El Hadi (Ria Hidayah). Blog riahidayah.blogspot.com.

Ria Hidayah, S.Pd.

Suatu siang saat jalan-jalan bersama suami, tidak sengaja kuliat durian dan rasanya ingin sekali memakannya. Padahal sebelumnya aku sama sekali tidak menyukainya. Hal itu berlaku juga pada tempe dan wortel. Sebaliknya, makanan yang kugemari malah kubenci. Rujak misalnya. Saat hamil, malah makin mual ketika menikmati rujak. 

Waktu kandunganku sudah memasuki usia 6 bulan, aku jadi berlebihan makan. Rasanya semua makanan bisa masuk perut. Bahkan minum susu bisa 4 kali sehari. Masa hamilku ketika itu bersamaan dengan bulan puasa. Jadi ketika orang lain menahan lapar dan haus, aku malah makan di siang bolong. Saat sahur, aku juga ikut sahur. Orang lain buka puasa, aku tetap ikutan. Tidak heran berat badanku yang awalnya 50 Kg naik jadi 70 Kg.

Anehnya saat USG, dokter mengatakan kalau janinku kecil. Dokter pun menyaranku untuk mengkonsumsi es krim. Aku makin senang, kemudian hampir tiap hari kumakan es krim. Saking berlebihannya, berat badan bayiku saat lahir adalah 3,8 Kg dengan panjang 49 cm. Allhamdulillah itu dengan proses normal. Aku, suami dan keluarga sangat bahagia dengan kelahirannya.

Dimuat dalam buku Nikmatnya Jadi Ibu (27 Aksara, 2015)
Penulis: Kartika Sari, tinggal di jalan Mandala 5 RT. 5 RW. 2 No. 18 Jakarta Timur. Ia lahir di Jakarta, 20 November 1994. Ibu muda yang hobi beres-beres rumah dan main HP ini memiliki akun facebook Kartika Sari Prasetiyo.

Kartika Sari
Bagaikan dapat durian runtuh, itulah pepatah yang pantas menggambarkan perasaanku pada saat aku dinyatakan positif hamil. Aku tidak menyangka sama sekali kalau aku bisa hamil secepat itu. Karena belum lepas dari ingatanku indahnya masa-masa menjadi pengantin. Hanya kurang lebih 2 bulan pernikahan, aku sudah positif hamil. Padahal sama sekali aku dan suami tidak pernah merencanakan mau punya anak secepat itu. Kami berdua enjoy saja, hanya menyerahkan nya saja semua kepada Allah. Tapi ternyata Allah member kepercayaan kepada kami. Dia memberikan kami anugerah yang paling indah dalam hidup kami.

Senang sekali aku rasanya karena sebentar lagi aku akan punya baby dan menjadi seorang ibu. Apalagi kehamilanku ini tidak seperti kebanyakan orang. Aku tidak mengalami muntah-muntah. Aku hanya mual saja, badan lemas, dan bawaannya ngantuk, serta malas. Tapi semua itu bisa aku jalani dan aku lewati seperti biasa. Aku masih bisa bekerja dan melakukan aktivitas. Tapi suamiku melarang aku terlalu capek. Dia tidak membolehkan aku mengerjakan pekerjaan rumah. Semua pekerjaan rumah, suamiku yang mengerjakannya.

Sungguh aku tidak tega sekali melihat suamiku harus menggantikan posisiku di rumah padahal aku tahu dia juga capek. Dia sudah bekerja di luar dan sampai di rumah harus mengerjakan pekerjaan rumah lagi. Tapi suamiku marah kalau dia tahu aku mengerjakan pekerjaan rumah. Dia sangat sayang dan perhatian sekali pada saat aku hamil. Dia selalu mengantarkan aku periksa kandungan setiap bulan. Dia juga selalu membelikan aku susu hamil, vitamin, dan buah-buahan. Pokoknya suamiku baik bangetlah. Apalagi dia tahu kalau aku mengandung anak laki-laki. Suamiku makin dan semakin sayang sama aku. Dan beruntungnya lagi calon bayiku pengertian sekali.

Aku tidak ada ngidam yang aneh-aneh. Dan aku juga masih bisa bekerja di luar. Meskipun suamiku juga melarang aku kerja di luar tapi aku tidak bisa harus di rumah lama-lama. Aku tidak betah karena aku memang sudah terbiasa bekerja. Sampai usia kandunganku 9 bulan 10 hari aku masih bekerja. Sampai-sampai bosku di tempatku bekerja selalu memberi pujian kepadaku karena dia bilang aku Wonder Woman.

Aku masih sanggup bekerja padahal aku sudah mau melahirkan dan aku juga tidak pernah bolos bekerja walaupun sedang hamil. Karena bagiku hamil bukan alasan untuk kita jadi orang yang malas. Apalagi kata orang-orang, apa yang kita lakukan dan kita ucapkan pada saat hamil akan terasa dampaknya kepada anak yang kita kandung. Makanya aku selalu melawan rasa malasku pada saat hamil. Aku rajin sekali bekerja agar anakku juga jadi orang yang rajin. Hanya pekerjaan rumah saja yang tidak aku kerjakan karena suamiku yang tidak membolehkannya.

Waktu tibanya usia kandunganku menginjak usia 9 bulan 10 hari, aku mengeluarkan bercak darah. Aku terpaksa minta izin pulang sama bosku padahal aku baru tiba di kerjaan. Dan bosku mengizinkan aku pulang. Aku hubungi suamiku lalu dia permisi juga dari kerjaannya dan menjemput aku pulang ke rumah. 

Tiba di rumah,aku tidak merasakan apa-apa. Bercak darah pun tidak ada keluar lagi. Sampai malam harinya baru aku merasakan perut bawahku perih tapi masih bisa aku tahan. Besok paginya lalu aku diantar orangtuaku ke rumah sakit karena aku merasakan sakit yang luar biasa. Satu hari lamanya aku merasakan perutku mules. Sampai-sampai aku mengeluarkan darah yang begitu banyak. Katanya sich aku mengalami kembar darah. Sakitnya sungguh luar biasa. Aku pun tidak tahan lagi dan akhirnya memutuskan untuk Caesar. Walaupun suami dan kedua orang tuaku tidak mengizinkan tapi aku tetap niat ingin Caesar. 

Akhirnya operasi di lakukan malam itu juga. Alhamdulillah, berjalan lancar.Aku melahirkan anak laki-laki dengan berat 2,7 kg dan panjang 4,5 cm. Sekarang anakku sudah berumur 13,5 bulan.

Dimuat dalam buku Nikmatnya Jadi Ibu (27 Aksara, 2015)
Penulis: Andriyani Oktavia Samosir, lahir di Medan tanggal 15 Oktober 1986 lalu. Ibu rumah tangga yang gemar menulis ini berdomisili di jalan Meteorologi 1 No.12 Kel. Indra Kasih Kec. Medan Tembung Medan- Sumut. Untuk kontak lebih lanjut bisa via akun facebook Yanie Yurie.

Andriyani Oktavia Samosir
''Alhamdulillah...'' ucapku penuh syukur saat melihat alat tes kehamilan menunjukkan positif hamil. Memang aku dan suami merencanakan langsung punya momongan setelah menikah, dan Allah mengabulkannya. Sungguh bahagia dan syukur yang tiada terkira. Hanya saja, tanggung jawabku sebagai kepala sekolah sempat membuatku sedikit khawatir. Pasalnya aku harus sering bolak-balik ke kota kabupaten bahkan provinsi yang jaraknya sangat jauh dan harus melewati pegunungan untuk mengikuti beberapa kegiatan dan workshop. Perlahan kuelus perutku dan berkata dalam hati, ''Sayang ... Kita akan melewati banyak rintangan. Kamu yang kuat ya, Sayang. Bunda akan selalu menjagamu.''

Benar saja, di dua bulan usia kandungan, aku harus ke Kota Masohi, ditempuh dalam waktu 6 jam perjalanan. Itu tidak hanya sekali. Apalagi saat itu sekolah kami mendapat bantuan sebuah gedung perpustakaan dari dana DAK pemerintah kabupaten. Pernah ketika aku baru 2 hari di rumah, ditelepon untuk berangkat lagi ke Masohi karena ada kegiatan monitoring dari provinsi. Selesai kegiatan tersebut, badanku down. Rasanya dingin, mulut pahit dan tubuh seakan tak bertenaga. Tapi tugas juga tidak bisa ditinggalkan. Setelah sehari istirahat, aku kembali berangkat ke sekolah. 

Seminggu kemudian, aku harus kembali ke Kota Masohi untuk mencairkan dana bantuan bangunan tahap ke-2 dan 3 dengan kondisi tubuh yang belum benar-benar fit. Proses pencairan tak segampang yang kukira. Karena saat itu ada ratusan sekolah yang datang untuk tujuan yang sama, alhasil harus rela mengantre berjam-jam bahkan sampai malam. Ujian tidak sampai di situ, pencairan tahap ke-3 terkendala. Karena ada masalah di sekolah yang lain, beberapa sekolah termasuk sekolahku tidak bisa segera mencairkan dana. Kemungkinan 2 sampai 3 bulan kemudian baru bisa cair. 

“Ya Allah ...” batinku. “Berilah aku dan janinku kekuatan serta kesabaran.” 

Setelah pulang dari Masohi, beberapa hari kemudian terjadi masalah dengan perutku. Tiba-tiba saja perutku sakit dan nyeri. Memang tadi waktu keluar dari gerbang sekolah, motorku sempat anjlok di jembatan. Mamah sangat khawatir, beliau langsung menelepon bu bidan. Bu bidan lalu memberiku suntikan dan vitamin penguat kandungan. Aku harus bedrest selama 3 hari, tidak boleh turun ranjang kecuali untuk ke kamar mandi dan makan. Waktu itu kandungan baru memasuki usia 4 bulan, masih sangat rentan. Terlihat muka Mamah sedikit pucat, gemetar karena khawatir. Diam-diam aku meneteskan air mata. Betapa kau mencintaiku, Mamah.

Menginjak usia 5 bulan kandungan, kondisi badanku mulai pulih. Selera makanpun kembali, aku selalu ingin makan yang enak dan pedas. Ada-ada saja keinginanku, kadang ingin makan ayam asam pedas, sop kepiting, dan lain-lain. Beruntung aku tidak mengidam yang aneh-aneh. Perutku juga mulai membesar, sering kuelus dan ajak mengobrol. Katanya kebiasaanku itu bisa menstimulasi otak anak supaya cerdas. 

Pada bulan ke-6, Mamah sudah menetukan tanggal selamatan 7 bulanan. Katanya menurut adat jawa, tanggal yang baik adalah tanggal 7, 17 dan 27. Aku ikut apa kata Beliau. Nah, sebelum selamatan, kembali aku mendapat tugas mengikuti workshop. Kali ini di Ambon. Akhirnya aku ditemani mamah berangkat ke sana, Mamah tidak tega melihatku dengan perut besar sendirian. Perjalanan ditempuh sehari semalam dengan bus, lalu harus menginap di pelabuhan fery untuk menyeberang ke Pulau Ambon. 

Baru keesokan harinya kami menyeberang dengan kapal dan tiba di Ambon sekitar jam 9 pagi. Untung ada adik lelakiku yang sedang kuliah di kota itu. Jadi selama kegiatan, Mamah bisa tinggal di kost-kostan adikku. Workshop berjalan 2 hari, kegiatannya dimulai dari pagi hingga larut malam. Pinggang rasanya panas karena terlalu lama duduk untuk mendengarkan materi. Kuelus-elus perutku sambil berkata dalam hati, ''Sabar ya, Sayang ...''

Belum selesai kegiatan di Ambon, kembali aku mendapat telepon dari dinas kabupaten untuk segera datang mencairkan dana tahap ke-3 bangunan sekolah. Begitulah, usai workshop, kami mampir dulu ke Masohi menggunakan kapal cepat. Kembali, prosesnya berjalan lama. Hampir sebulan aku di situ sendirian karena Mamah pulang terlebih dahulu. Selesai pencairan dana, aku langsung pulang dan memutuskan istirahat total, menunggu kelahiran buah hati. Lagipula suami pun tidak mengizinkan aku pergi-pergi lagi. Alhamdulillah, pada pertengahan Ramadhan, lahirlah putri pertama kami yang diberi nama Adzkia Saufa Ramadhani.

Dimuat dalam buku Nikmatnya Jadi Ibu (27 Aksara, 2015)
Penulis: Hermawati, guru honor dengan akun facebook Erly ThepowerofLove ini lahir di Maluku Tengah, 02 Desember 1986. Ia tinggal di Desa Wonosari, Kec. Seram Utara Timur Seti, Kab. Maluku Tengah. Hobinya membaca buku.

Hermawati

Aku menikah tanggal 10 Juni 2013 pada usia ke-20 tahun. Setahun kemudian, aku mengandung anak pertama. Sebelum tahu kalau hamil, aku sering mual-muntah dan sakit kepala. Akhirnya kuputuskan periksa ke dokter kandungan. Oleh dr. Suhendri yang beralamat di Tanjung Pandan Belitung Barat, usia kandunganku dinyatakan sudah 2 bulan. Aku, suami dan seluruh keluarga besar sangat senang dan bahagia. Ini calon anak dan cucu pertama di keluarga besar kami. 

Saat usia kandunganku 3 bulan, aku mulai tidak nafsu makan atau minum. Terlebih nasi, mencium baunya saja membuat mual-muntah. Air juga tidak bisa masuk ke dalam perut. Aku mulai resah, bagaimana dengan kondisi janinku kalau terus seperti ini? Akhirnya kupaksakan meski setelah masuk harus kumuntahkan lagi dan lagi. Begitulah seterusnya, hingga aku harus menginap selama 3 hari di rumah sakit. Aku ketergantungan obat anti mual dari dokter. 

Dalam kondisi lemas, aku masih harus bekerja di salah satu perusahaan Belitung. Karena sering tidak masuk kerja, peringatan datang berkali-kali. Aku terpaksa bekerja sebab kebutuhan hidup harus dipenuhi, apalagi kami sudah punya calon buah hati. Hati ini berat untuk berhenti bekerja, jadi tetap kulakukan walaupun keadaan hampir tak berdaya. 

Keadaan itu diperburuk dengan penyakit cacar api yang menyerangku. Aku semakin khawatir dengan kondisi janinku yang baru 4 bulan. Tubuh terasa panas bak dibakar, begitu menyakitkan sekaligus gatal. Aku terus berobat tanpa putus asa. Setelah 2 minggu terbaring sakit hingga berat badan turun 11 Kg, akhirnya saya sembuh dan Alhamdulillah dokter menyatakan janinku baik-baik saja. 

Menginjak usia kandungan yang ke-7 bulan, aku sudah bisa makan dan minum sedikit demi sedikit meskipun masih mengkonsumsi obat anti mual. Aku pun mempersiapkan kelahiran sang buah hati, menjaga diri dengan cara berjalan pelan dan tidak terlalu jauh tiap subuh dan selepas kerja. Juga sering jongkok ringan untuk mengendorkan otot-otot jalan lahir. 

Ketika usia kandungan sudah 9 bulan lebih 11 hari, di jam 5 pagi kurasa ngilu pada perut. Baru kuindahkan ketika rasa ngilu kurasa tiap 10 menit. Jadi tepat jam 1 siang, kuhubungi bidan. Setelah diperiksa, ternyata sudah bukaan satu. Karena masih kuat jadi kuputuskan untuk tetap di rumah saja. 

Setelah rasa sakitnya kian sering, yakni dirasa tiap 2 menit sekali, pada pukul 16.10 WIB, aku kembali diantar suami pergi ke bidan. Butuh waktu setengah jam untuk sampai tiba di tempat tujuan. Ternyata sudah bukaan 4. Sakitnya terus menerus dirasa, hampir tak ada jeda bahkan bidan tidak sempat memeriksa detak jantung janinku. Kemudian pada pukul 18.18 WIB tanggal 19 April 2014, anak kami lahir. 

Sujud syukur tak lupa kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan keselamatan padaku dan bayi kami. Tangis haru dan bahagia terlihat dari semua keluarga kami. Walau sewaktu hamil penuh cobaan dan air mata, fase-fase terlewati dengan baik dan rasa sakitnya tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan kebahagiaan karena kehadiran sang buah hati yang telah dinanti. Tidak semua wanita beruntung mendapatkan keturunan, oleh karenanya sayangilah janin dalam kandungan dan lawan segala cobaan serta rasa sakit itu. Tetap semangat dan terus berdoa. 

Terima kasih Yaa Allah ... telah Engkau beri anugerah terindah yaitu seorang bidadari bernama Laesa Kurnia Nengsih.

Semoga kisah ini bermanfaat. Salam sayang dari saya, Lisnawati. 

Langang, Belitung Timur
30 Januari 2015

Dimuat dalam buku Nikmatnya Jadi Ibu (27 Aksara, 2015)
Penulis: Lisnawati, lahir di Tanjung Pandan, 01 September 1992. Karyawan swasta yang gemar menyanyi ini beralamat di jalan Tengah Dusun Langkang Desa Lintang RT. 25 RW. 6 Kec. Simpang Renggiang Kab. Belitung Timur Prov. Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di akun facebook Lisnade Selalu Dihati.
Lisnawati
Saya menikah 15 Juni 2013. Pada saat itu saya sudah bekerja di sebuah rumah sakit yang cukup terkenal di Samarinda, yaitu RS Darjad. Karena ada suatu masalah, akhirnya saya berhenti. Lepas itu, saya tidak bisa duduk manis di rumah. Saya ingin membantu suami untuk mencari nafkah agar bisa punya rumah sendiri. Setelah beberapa hari mencari pekerjaan, datanglah panggilan kerja di sebuah bank ternama. Tapi belum rezeki, mereka mengutamakan wanita yang belum menikah dan bisa untuk ditempatkan di manapun cabang bank berada. Saya lalu berusaha kembali mencari pekerjaan, dan akhirnya dapat di suatu perusahaan tempat dimana ada teman saya yang juga bekerja di sana. 

Hari-hari terlalui seperti biasa tapi kali ini setiap bulan selalu berdebar menunggu kabar kehamilan saya. Tanpa bosan tes urine, minggu terakhir Desember 2013 saya tetap mencoba pakai testpack karena tidak datang bulan selama 2 minggu lebih. Hasilnya ... sedikit membuat saya senang meskipun masih ragu. Akhirnya saya periksa ke bidan dan dinyatakan positif hamil. 

Rasanya senang sekali. Namun ada kesedihan dan perasaan was-was karena baru bulan ke-4 saya bekerja. Apakah saya akan dipecat? Dengan kebulatan tekad, saya tidak mau ambil pusing. Ternyata Allah begitu sayang, bukan hanya calon buah hati tetapi pekerjaan juga tak hilang. Saya tidak sendiri, para sahabat jua sedang hamil. Akhirnya ada teman untuk berbagi karena kami berada pada kondisi yang sama.

Selama hamil, tidak ada mual atau ngidam seperti orang hamil pada umumnya. Hanya saja kondisi tubuh mudah lelah. Berkat dukungan serta kasih sayang yang diberikan suami membuat saya tetap bersemangat menjalani kehamilan. Dia juga adalah sosok imam yang sempurna, bangga dan sangat bersyukur diri ini telah memilikinya. 

Saya tetap bekerja rutin, tak boleh ada kesempatan mengeluh. Saya ingin kelak si buah hati menjadi anak yang pantang menyerah dalam meraih cita-cita. Sewaktu ramadhan, usia kandungan sudah 7 bulan. Saya pun tak ketinggalan berpartisipasi menjalankan perintah agama, karena ingin mengajarkan sang anak untuk berpuasa sedini mungkin. Namun tidak seindah yang diharapkan, ternyata saya hanya sanggup bertahan 3 hari. Saya muntah-muntah sebab maag.

Tiap bulan saya rutin periksa ke puskesmas atau pun dokter spesialis kandungan. Keadaan janin normal, air ketuban dan posisinya juga bagus. Nah ketika memasuki bulan ke-8, posisinya menjadi sungsang dan terlilit tali pusat. Sedih dan takut sekali rasanya, beruntung dukungan suami dan orangtua tak pernah lepas. Orangtua menyarankan agar dipijat agar bisa mengubah posisinya mumpung belum 9 bulan. Dokter juga menyarankan agar saya sering dalam posisi sujud. Semua saran saya ikuti. 

Apalah daya, Allah berkehendak lain. Sang janin tetap dalam keadaan demikian. Walau perkiraan kelahiran jatuh pada akhir Agustus atau awal September 2014, oleh karena air ketuban sudah mulai berkurang maka di awal Agustus saya pun direncanakan dokter bersalin lewat operasi tanpa harus menunggu adanya kontraksi.

Tanggal 4 Agustus 2014 di hari Senin, orang tua menganjurkan saya bersalin di hari itu. Katanya hari baik karena merupakan hari kelahiran Rasulullah. Lagi-lagi saya menurut. Sesampainya di RS, ternyata saya tidak bisa lagsung dioperasi karena masih membutuhkan obat yang disuntikkan pada tubuh saya demi kebaikan jantung janin saya.

“Harus dikuatkan dulu sebelum dioperasi,” kata tenaga medis yang menyuntik saya.

Esoknya, lahirlah seorang bidadari kecil, hasil buah cinta saya dengan suami tercinta. Kami menamainya Zahidah Akualbi Nadhifa, yang artinya wanita cantik, berhati baik dan lemah lembut.

Dimuat dalam buku Nikmatnya Jadi Ibu (27 Aksara, 2015)

Penulis: Kartika Ayu Lestari dilahirkan di Samarinda pada 14 Maret 1991 silam. Ia menetap di Perum Pondok Karya Lestari No. 710 Blok B RT.09 RW.03 Sei Kapih, Sambutan, Samarinda Kaltim. Pekerja swasta yang suka mendengarkan musik ini bisa dihubungi via akun facebook Thika Cuantik.

Kartika Ayu Lestari

Setengah tahun dari pernikahan, aku dinyatakan hamil setelah sebelumnya sempat ditanyakan terus oleh bapak mertua yang sepertinya ingin segera mendapat cucu dari kami. Sebuah kehamilan yang membahagiakan dan dinanti karena usiaku sudah mendekati kepala 3, tapi aku optimis karena banyak teman di kantor yang mengalami hal yang sama. Aku lihat mereka enjoy dan tenang walau hamil di usia 30-an.

Karena morning sickness, mual kurasa sejak mandi jam 5 pagi dan berlanjut saat di mobil yang disetir suami menuju kantor di bilangan Sudirman. Karena sudah sangat paham dengan kebiasaan baru, tong sampah di dalam mobil berubah menjadi penadah muntah. Setelah muntah terasa lebih lega, aku jadi bisa menikmati sarapan dengan menu yang kusuka: roti tawar isi bervariasi dari isi coklat, keju, susu cair, meses atau dibuat sandwich dengan potongan tomat dan tuna lapis mayonais. Selain itu, aku yang biasanya tidak suka telur ceplok, ketika hamil malah hampir setiap saat menikmatinya. Kalau katanya orang hamil suka ngidam atau suka rujak, ternyata aku tidak mengalaminya.

Melangkah pada trimester 2, rasa mual-muntah mulai hilang. Sekarang ganti nafsu makan membesar karena saat makan jadi terasa lebih enak tanpa khawatir dimuntahkan lagi. Tidak heran pada kehamilan pertama total kenaikan berat badanku sampai 21 Kg.

Aku mulai mengikuti senam hamil pada trimester 3. Banyak manfaat yang diperoleh mulai dari pelajaran perawatan payudara, persiapan memberi ASI, cara mengejan saat persalinan, perlengkapan yang harus dipersiapkan saat jelang hari persalinan, senam untuk membantu kelancaran persalinan, perawatan bayi lahir hingga bertemu dengan sesama teman yang hanya berbeda minggu umur kelahiran. Kami jadi saling share dan mendoakan.

Ternyata perkiraan kelahiran dari dokter maju 2 minggu sehingga hari pertama cuti adalah hari kelahiran Filza Azkiya. Sebelumnya pada 24 Maret 2008 pukul 03.30 WIB, aku terbangun dari tidur karena keluar air seperti kencing padahal aku merasa tidak pipis. Pun ada sedikit bercak darah, yang kata pengajar senam hamil inilah tanda kelahiran.

Aku hanya ditemani suami berangkat ke RS. Hanya berdua karena Mama masih di Purbalingga dan butuh 10 jam perjalanan ke Jakarta. Setibanya, dilakukan pemeriksaan dalam padaku. Ternyata sudah pembukaan dua tapi aanehnya aku tidak merasa mulas. Sedangkan di sampingku ada bunda dengan kondisi yang sama, pembukaan dua juga, sudah memakai kain sarung dan perutnya mulas-mulas. 

Sampai jam 6 pagi, pembukaan bertambah menjadi 3 tetapi tidak mulas juga. Akhirnya bidan menghubungi dokter yang ternyata masih terkena macet di perjalanan. Dokter menganjurkan untuk diinduksi dengan cara menginfusku dan memasukan cairan melalui alat tersebut. 

Benar saja, sejam ke depan, mulai terasa mulas. Ketika pembukaan jadi 8 di jam 12 siang, para bidan memindahkanku ke ruangan tindakan. Karena dirawat di RS Haji, saat mau melahirkan aku diajak berdoa dan menahan sakit dengan menyebut Basmallah dan Allahu Akbar, tanpa ‘mengaduh-aduh’. 

"Aduuuh mulassss ... Cara mengejan bagaimana ya?" tanyaku.

Ada seorang bidan yang menjawab, "Coba ingat-ingat pelajaran senam hamilnya.”

“Lupaaa!" 

Dokter hadir saat mulas tiada hentinya. Proses kelahiran menjadi sangat cepat setelah ada yang dipecahkan oleh dokter. Cairan yang amat banyak keluar, dokter memberi aba-aba untukku mengejan. Kutarik nafas beberapa kali hingga saat puncak mulas aku disuruh mengejan, tarik nafas, nafas sambung, mengejan, nafas sambung akhirnya seperti buang air besar yang terbesar. Allahu Akbar ... lahirlah si kecil. Rasa sakit sirna saat melihat si kecil berlumur darah dan air ketuban. 

Inilah sekilas kisah kehamilan dan kelahiran yang membahagiakan. Semua berkat Allah yang memberi kemudahan walau melewati semua masa itu saat jauh dari orangtua dan saudara. Berbahagialah saat hamil dan nikmatilah setiap moment-nya maka semua akan terasa membahagiakan.

Dimuat dalam buku Nikmatnya Jadi Ibu (27 Aksara, 2015)

Penulis: Nenny Makmun, menulis tanpa batas (Write without boundaries) dalam http://noorhanilaksmi.wordpress.com/. Ibu dua puteri kelahiran 14 Juni 1975 menyukai aktivitas seputar rumah, menulis ditemani anak-anak yang ribut, jadi sopir dan sesekali mencoba resep-resep baru dan tengah bekerja sama mengelola les bahasa Inggris Homely. Tinggal di Perum Bukit Golf Arcadia Housing blok F6 no 10. Novel yang sudah terbit : Novel Ketika Mulai Mencintai (Zettu Publishing), Novel Di Sudut Hati (Rumah Oranye), Novel Karena Aku Memilihmu (Rumah Oranye), Cinta Tanpa Batas (Zettu Publishing), Forgotten Angel (Rumah Oranye), Pupus (Rumah Oranye), Dalam Sebuah Kloset (Grasindo), The Real Prince_teenlit (Alif Gemilang Pressindo, Aku Bukan Pilihan (Kino Pubishing). Email : nennyrch02@yahoo.com – FB : Nenny Makmun – Twitter @ichandfay.

Nenny Makmun

Setahun sudah rumah tangga kami, kejenuhan pun mulai ada. 

"Umi, coba ada dedek bayi ... pasti ramai! Kalau cowok, makin seru karena bisa main sama Abi," celoteh suami. 

Mendengarnya, aku hanya bisa berucap dalam hati, "Kenapa Allah belum memberiku momongan?"

Akhirnya, kami yang menikah tanggal 11 Juli 2012 kemudian ikut program hamil. Banyak dokter kami datangi, sampai akhirnya dokter mendiagnosa kalau ada kista di rahimku. Setelah itu, setiap hari kuminum obat dan rebusan daun sirsak. Alhamdulillah sembuh. Suami lalu mengajak program hamil ke RS Siloam. 

Pada 10 Maret 2014, aku merasa mual dan hasil testpack positif. Syukurlah. Selang beberapa bulan, aku nyidam ikan asin dan sate kambing. Saat itu rasanya begitu nikmat. Sampai akhirnya usia kandungan menginjak 32 minggu, aku jadi sering pusing, kaki bengkak, dan susah tidur. 

Kemudian aku periksa ke sebuah klinik bersalin di Jakarta. Ternyata tekanan darahku 200/120 mmHg! Astagfirullah ... Aku menginap selama 10 hari dengan beragam terapi yang dokter beri. 

Waktu persalinan tiba. Pada 29 September 2014, aku menjalankan SC pada pukul 07.15 WIB dan keluar pukul 08.30 WIB. Begitu tangisan pertama malaikatku terdengar, sungguh bahagianya aku menjadi seorang ibu. Usainya, aku dibawa ke ruang VIP B Mawar, tempat keluargaku menunggu. Sayangnya, bayiku yang terlahir prematur dengan berat hanya 1538 gram harus dibaringkan di dalam incubator Ruang Seruni.

Esok harinya ketika badanku pulih, kuantarkan ASI untuknya. Selalu begitu hingga 4 hari pasca oprasi dan dokter membolehkanku pulang. Tapi tidak dengan bayiku, karena beratnya belum mencapai 2500 gram. Selang 2 minggu kemudian, ada kabar kalau bayiku terkena infeksi. Lutut ini jadi gemetar dan lemas melihatnya kurus dan warna kulitnya kuning. Aku menyalahkan diri sendiri karena tidak menjaga pola makan selagi hamil. 

Kemudian, aku bertemu seorang ibu yg bernama Dina. Anaknya juga prematur dan dirinya sewaktu hamil diagnosa preeklampsia berat (PEB), sama seperti diriku. Ia berkata, "Umi Al, tengokin dedek tiap hari dong biar dia semangat melawan penyakitnya. Anak lebih senang dijenguk setiap hari, sama seperti teman-temannya di sini yang juga ditengokin ayah bundanya tiap hari." 

Dari situlah lalu aku dan suami tinggal di Jakarta untuk membawakan ASI dan menyemangati bayi kami tiap hari. Alhamdulillah ... setelah 3 minggu dirawat, bayi kami diperbolehkan pulang. Sekarang, 29 Januari 2015, genap 4 bulan usianya dan sudah 5800 gram. Malaikatku juga pintar dan aktif. Alhamdulillah ...


Dimuat dalam buku Nikmatnya Jadi Ibu (27 Aksara, 2015)

Penulis: Dita Susilawati, seorang bidan yang memiliki hobi membaca ini tinggal di jalan raya Tanjung Lesung KP Neglasari RT. 02/01 DS. Panimbang Jaya Kec. Panimbang Kab. Pandeglang Banten. Ibu muda berkelahiran Pandeglang,14 Februari 1991 bisa dikontak via akun facebook Dita Susilawati.

Dita Susilawati
Tanggal 6 Mei 2013, aku bersama beberapa orang rekan guru sedang duduk-duduk di ruang jaga. Seorang teman lalu menawariku bekal nasi gorengnya. Ia memintaku mencicipi, sedangkan dia sendiri meninggalkan kami karena ada sedikit urusan. Satu-dua sendok kulahap, sampai akhirnya ketika Ibu Nina, pemilik bekal datang, aku baru sadar kalau bekalnya habis kumakan. Sungguh tak enak hati, beruntung beliau tidak marah sama sekali. 

Aku heran dengan kondisiku sekarang, sering lapar, sakit kepala berlebih dan kram perut yang teramat sangat. Walau belum tepat sebulan menikah, kuberanikan diri membeli testpack. Hasilnya nihil, aku dan suami hanya menghela nafas dalam. Mungkin memang belum rezeki kami. 

Beberapa hari kemudian, aku mendapati bercak darah pada celana dalamku. Kupikir akan menstruasi, tapi belum jadwalnya. Kegiatan kulanjutkan dengan mencuci seember baju. Darah menstruasi tidak kunjung datang, pun bercak yang tadi timbul malah menghilang.

Keesokan harinya, kami menginap di rumah mertua. Aku memberanikan diri membeli testpack lagi. Alhamdulillah, kudapati 2 garis merah. Kontan aku berteriak kegirangan sampai suami kaget dan berlari ke arahku. Tak terkira kebahagiaan kami, sekaligus dari mertua maupun orang tuaku. Janin ini akan jadi cucu pertama mereka.

Tapi kebahagiaan runtuh saat kudapati darah yang cukup banyak pada pagi harinya. Aku sesenggukan, menyalahkan diriku karena bekerja terlalu berat tanpa memikirkan si jabang bayi. Semua orang termasuk suami dan orangtua tak henti-hentinya menghiburku. Aku hanya bisa bersabar sambil terus berdoa agar janinku masih bisa diselamatkan. Saat itu tepat hari Minggu, hari dimana semua dokter kandungan tidak membuka tempat prakteknya. 

Senin, kami membuat janji dengan dokter kandungan setempat. Hasilnya ternyata aku hamil dua minggu. Tapi kami kembali menelan pil pahit karena aku terancam keguguran. Aku diharuskan bedrest selama seminggu. Walaupun bedrest, aku masih saja mendapati bercak darah dan kram perut yang acapkali menghampiri. Akhirnya kuputuskan untuk menginap di rumah sakit. 

Di rumah sakit, aku merasa mual luar biasa. Jangankan untuk makan, minum pun aku tidak bisa. Akhirnya aku diinfus, semua obat dimasukkan lewat itu. Setelah 3 hari, dokter mengizinkanku pulang karena bercak darah sudah tidak ada. Namun aku masih diharuskan bedrest di rumah selama 3 hari.

Saat kandunganku berusia 7 bulan, kembali kudapati bercak darah dan rasa mulas! Apa ini pertanda aku akan melahirkan dini? Aku ketakutan. Semua orang di rumah pun kelabakan. Kami lalu pergi ke tempat praktek dokter kandungan. Dokter kemudian memeriksa bukaan dengan cara memasukkan jarinya dan mendorong perutku. Aku meringis kesakitan.

Dokter mengatakan gejalaku sebagai tanda melahirkan dini. Karena paru-paru sang calon bayi belum kuat, maka kami harus mengusahakan agar bukaan tidak terus bertambah. Aku pun menginap lagi di rumah sakit, diinfus lagi. Dokter juga menyuntikkan obat untuk memperkuat paru-paru calon bayiku. 

“Nak, kamu ingin bertemu Mama, ya? Mama juga... Mama sayang Adek! Kalau Adek sayang Mama, jangan keluar dulu. Paru-paru kamu belum kuat. Bantu Mama berdoa ya biar Allah mempertemukan kita dalam keadaan sehat wal’afiat,” ucapku sambil mengelus-elus perut.

Alhamdulillah, Allah mendengar doa kami. Bukaan tidak bertambah, kontraksinya juga hilang. Aku akhirnya diizinkan untuk pulang, dengan syarat tidak kerja berat lagi. Tanggal 26 Desember 2013, kudapati bercak darah tapi tidak menghiraukannya. Mungkin karena terlalu capek dan banyak pikiran. Keesokan harinya, bercak darah ternyata muncul lagi! Segera aku periksa ke rumah sakit swasta. Karena dokter sedang mengoperasi seorang pasien, aku diperiksa bidan senior. Alangkah kagetnya dia saat ketubanku sudah pecah tapi bukaan tidak bertambah. Diambilnya alat pemeriksa denyut jantung janin. Denyut jantungnya terdengar cepat sekali sehingga bidan menyarankanku untuk operasi. 

Selama di dalam ruang operasi, aku terus berdoa agar Allah SWT mempertemukan kami dalam keadaan sehat wal’afiat. Berkali-kali aku tak sadarkan diri akibat pengaruh obat bius, hingga tiba-tiba kudengar tangisan bayi. Perlahan aku membuka mata dan kulihat dokter sedang menggendong seorang bayi.

“Selamat ya, anaknya laki-laki,” kata dokter itu. 

Sungguh aku begitu bersyukur. Walaupun si kecil sempat diberi oksigen, tapi aku bisa melahirkan bayi sehat dengan panjang 46 cm dan berat 3,1 Kg. Dia adalah anugerah terindah dalam hidup kami.

Dimuat dalam buku Nikmatnya Jadi Ibu (27Aksara, 2015)

Penulis: Dita Andini. Seorang ibu rumah tangga pecinta kuliner dan traveling. Lahir pada 24 September 1990. Tinggal di jalan Sisingamangaraja lorong Simaja 1 No.26 Palu, Sulawesi Tengah. Bisa dihubungi melalui akun facebook Dita Andini.

Dita Andini

Hamil adalah masa yang paling menyenangkan. Apapun yang kuinginkan pasti dituruti. Kasih sayang suami semakin terlihat. Sayangnya kebahagiaan itu hanya sesaat. Di usia kehamilan 3 bulan, aku keguguran. Suamiku pasti kecewa dan itu terlihat di wajahnya walaupun tak terucap. Atas izin Allah, Alhamdulillah 3 bulan pasca keguguran, aku hamil lagi. Kujaga baik-baik karena tak ingin orang-orang terkasih kecewa lagi. 

Di kehamilan ini tidak semulus yang kukira. Di awal masa ini, fisikku lemah. Penyakit datang silih berganti, mulai dari sakit gigi hingga lemah lesu. Hampir tiap bulan bolak-balik ke dokter untuk berobat dan konsultasi sebab ibu hamil tidak boleh minum obat sembarangan. Beruntung hanya 7 bulan sakit ini menyerang. Sungguh perjuangan panjang yang menghasilkan kebahagiaan untuk keluarga kecilku. 

Menjelang persalinan, aku baru tahu kalau ternyata usia kandungan sudah lewat bulan. Oleh karena itu air ketubannya sudah pecah dan berubah warna. Allahuakbar! Anakku bisa lahir dengan selamat. 

Saat itu berharap bisa memberikan ASI, lagi-lagi aku gagal. Di usia anakku yang masih seminggu, ia alergi ASI. Selama 9 hari anakku masuk rumah sakit dan aku tak bisa menyusui. Sampai akhirnya dia minum susu formula. 

Duka ini terkadang membuatku lemah mental. Aku jadi berpikir kalau belum bisa jadi ibu yang sempurna. Alangkah bahagianya bunda-bunda yang bisa memberikan ASI pada anaknya. Walaupun demikian, aku tetap bersyukur. Semua hal terjadi atas kehendak Allah. Ia tau apa yang terbaik untukku dan keluarga.

Dimuat dalam buku Nikmatnya Jadi Ibu (27 Aksara,2015)

Penulis: Yuliana, lahir di Pontianak 14 Mei 1986. Anak ke 3 dari 5 bersaudara. Seorang IRT dan guru mengaji. Hobinya menyanyi dan belajar Qur'an. Jurusan IPA Alumni MAN 1 PONTIANAK angkatan 2004 ini tinggal di jalan Budi Utomo Gang.A. Rahman RT 001. RW. 018 Kecamatan Pontianak Utara Kelurahan Siantan Hilir. Akun fb: Bunda Ribka Nizar.

Yuliana

Pada 14 November 2004, aku memutuskan untuk berpacaran dengan lelaki yang sekarang sudah menjadi suamiku. Perjalanan cinta kami mulus, sering putus-sambung tapi mampu bertahan hingga 10 tahun. Ketika usiaku sudah 22 tahun, kami memutuskan untuk segera melanjutkan hubungan ke arah yang lebih serius. Lalu pada 14 Februari 2013, aku bertunangan dengannya dan menikah 30 November 2013.

Hingga bulan ke-3 setelah pernikahan, kurasakan ada yang berbeda. Aku sering pusing, badanku bak terus-menerus masuk angin.

Suami berujar, “Mungkin hamil, Bun?" 

Aku pun ragu karena belum telat. Jadi kutunggu hingga seminggu kemudian, bila belum juga datang bulan maka akan kutes pakai testpack. 

Masa itu tiba. Sebelumnya kami membuat komitmen bahwa jika hasilnya positif, aku hanya inginkan rumah tangga kami kian harmonis dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Syukurlah hasilnya adalah 2 garis merah. Aku pun terharu dan menangis di hadapan suami. Insyaallah aku akan menjaga amanah ini.

Selama hamil, aku masih bekerja karena merasa sanggup menjalaninya. Aku juga ingin membantu dalam perekonomian keluarga. Selain untuk ditabung, juga untuk belanja sendiri. Jadi meskipun kurasakan mual-muntah dan pusing, tapi aku tetap semangat bekerja. Beruntung kehamilanku tak begitu merepotkan. Makanku juga banyak, maka tidak heran bila setiap bulan berat badanku selalu naik 2-3 Kg.

Soal ngidam, pertama kali sekali aku ingin punya HP Samsung Core. Malam-malam, kami pun pergi ke carefour untuk membelinya. Sayangnya setelah beberapa minggu kupakai, kepalaku malah pusing hingga akhirnya kuputuskan ganti ponsel.

Ada peristiwa yang membuat suami menangis sedih. Kala itu usia kandungan sudah 3 bulan. Saat kurasakan mual dan rasanya mau muntah, dengan segera aku lari ke kamar mandi. Saking tidak tahannya, kumuntahkan di lantai depan kamar mandi. Sialnya aku terpeleset muntahanku sendiri. Serta merta suami menghampiri dan menyelamatkanku sambil menangis. 

“Yaa Allah ... kenapa bisa begini sih, Nda?”

Aku pun juga menangis karena kesakitan. Alhamdullilah tidak keluar darah. Aku takut sekali jika keguguran. Lalu keesokan harinya, aku pergi ke RS Eva Sari agar diperiksa via USG. Hasilnya janinku tidak kenapa-kenapa, detak jantungnya juga normal.

Lalu suami saya memutuskan agar kami tinggal bersama orang tuanya karena rumah yang sekarang hanya ada kamar di atas. Suami tidak mau ambil resiko karena akhirnya aku mesti naik turun tangga tiap hari. Akhirnya kuikuti permintaannya. Hari demi hari kujalani tinggal bersama mertua. Alhamdullilah mereka baik, aku sudah dianggap sebagai anak sendiri. Bahkan selalu dibekali makanan setiap berangkat kerja. Tentu mereka sangat menanti cucu dari anak kesayangannya.

Setelah 6 bulan lebih, kuputuskan berhenti kerja sebab sudah merasa mudah letih nan capek. Aku lalu rutin ikut senam hamil. Nah, ketika kontrol di RS Eva Sari dan di-USG untuk yang ke-2 kalinya, baru kuketahui bahwa anak dalam kandunganku adalah laki-laki. Apapun yang Allah berikan untuk kami, pastinya kami bahagia.

Suatu hari di usia kandungan 9 bulan, aku mengeluarkan darah dari kemaluan. Tidak terlalu banyak sih, tapi langsung mengeceknya ke puskesmas. Bidan bilang belum ada pembukaan sehingga kuputuskan untuk pulang lagi. Malam harinya, perutku mulas sekali, setiap 10 menit aku terbangun dari tidur. Kemudian paginya ketuban pun pecah.

Rasa sakit perut terasa tiap 5 menit sekali. Dengan diantar suami aku kembali ke puskesmas. Kata Bidan sudah pembukaan 2. Oleh karena denyut jantung janinnya lemah, aku dirujuk ke RS Budi Kemuliaan. 

Tepat pada 22 Oktober pukul 00.00, ketika aku sedang mulas-mulasnya, suami mengucapkan, “Selamat ulang tahun, Bunda ... Semangat! Bunda pasti bisa!”

Itulah yang menguatkanku. 

Setelah perjuangan keras, akhirnya jam 3 dini hari terdengar jeritan bayi. Itu adalah anak laki-laki kami, terlahir pada tanggal yang sama di hari ulang tahunku. Yaa Allah ... ini kado terindah yang Allah berikan. Kami menamainya Daffa Farzan Mikhail, lahir dengan berat 2850 gram dan panjang 49 cm. Alhamdullilah anakku sehat dan banyak yang bilang mirip bundanya. Semoga Allah jadikan anak kami sebagai anak sholeh serta berguna bagi nusa, bangsa serta agama. Amin.

Dimuat dalam buku Nikmatya Jadi Ibu (27 Aksara, 2015)

Penulis: Nurul Fadilah, ibu rumah tangga dengan akun facebook Daffa Farzan Mikhail ini berkelahiran Jakarta 22 Oktober 1991. Ibu muda yang hobi menyanyi ini meneta[ di jalan Temugiring Kel. Kayu Putih, Jakarta Timur

Nurul Fadilah

Kehamilan adalah harapan saya setelah menikah. Namun saat itu saya dan suami sama-sama bekerja di kota yang berbeda, jadi tidak bisa sering bertemu ataupun berbulan madu layaknya pasangan pengantin baru. Hal itulah yang mendorong saya resign dan ikut suami ke kota C. Di sana saya menjadi ibu rumah tangga dengan mengurus suami dan membuka usaha kecil-kecilan di bidang craft untuk mengisi waktu luang. 

Harapan agar saya bisa cepat hamil, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hingga pernikahan kami berusia 5 tahun pun saya tak kunjung hamil! Berbagai upaya sudah diusahakan, mulai pengobatan medis hingga jalan alternatif menggunakan herbal, tidak ada hasilnya. Tetangga, teman, saudara, kerabat mulai banyak yang bertanya setiap kami mudik. Ada yang prihatin, ada yang mencemooh. Semua kami terima walau jujur saya menjadi minder. Bahkan untuk bertemu orang yang memiliki anak pun rasanya segan. Saya jadi jarang bergaul dengan tetangga karena kata-kata mereka kadang menyakitkan. 

Sampai saya dan suami memutuskan mengikuti program hamil, yaitu inseminasi dan bayi tabung di kota S. Sebenarnya niat kami waktu itu ingin mengikuti program inseminasi saja karena waktu itu biayanya bayi tabung tidak murah. Namun ketika proses berlangsung, sel telur saya ternyata ada 4 buah. Dokter mengatakan jika diinseminasi, bisa-bisa jadi kembar 4 dan itu menimbulkan resiko untuk ibu dan janin. Oleh karenanya, dokter menyarankan kami menjalani setengah proses bayi tabung yaitu Ovum Pick Up (OPU) dan Embrio Transfer (ET). Itu adalah proses pengambilan sel telur dan penanaman embrio setelah sel telur dan sperma dibuahi di luar kandungan. 

Setelah melalui proses panjang yang melelahkan nan menyakitkan itu, akhirnya hasilnya keluar. Sayangnya ... negatif. Prosesnya gagal karena embrio tidak mau menempel pada dinding rahim. Saya pun menstruasi. Betapa hancurnya hati ini waktu itu. Perasaan saya bagai naik roller coaster, setelah melambung tinggi karena tim dokter mengatakan kemungkinan saya hamil tinggi karena umur saya waktu itu kurang dari 30 tahun serta hasil pemeriksaan sebelumnya menyatakan bahwa saya beserta suami sehat, kemudian terhempas begitu saja karena saya tidak hamil.

Kata dokter, "Saya tidak memberi resep obat karena Anda berdua sama-sama subur. Kalau sampai 3 bulan ke depan ibu belum hamil, bisa kembali ke sini untuk program bayi tabung dari awal.”

Dalam hati, saya berujar, “Apa iya saya bisa hamil alami dalam 3 bulan ke depan?”

Hari demi haripun berlalu, saya dan suami melewatinya dengan pasrah karena merasa sudah berusaha tak henti-henti. Kami terus berdoa. Kami yakin Allah akan memberi amanah pada suatu hari nanti. Sebagai pelipur hati yang gundah, kami sering bepergian dan wisata kuliner. Hingga suatu hari saat kami bepergian jauh menggunakan sepeda motor, pada perjalanan pulang kami kehujanan dan banyak melewati jalanan berlubang. 

Sampai rumah, saya teringat harusnya hari ini jadwal menstruasi. Jadwal haid saya selalu teratur, tetapi sampai seminggu haid saya tidak kunjung datang. Waktu itu saya pikir hormon terganggu karena usai mengikuti program bayi tabung, jadi saya terlambat haid. Namun sampai dua minggu lebih pun haid saya tak kunjung datang. Akhirnya saya beranikan diri memberi testpack dan ternyata muncul 2 garis tegas. Apakah mungkin saya hamil?

Saya pun membangunkan suami. Kami saling berpelukan, menangis bahagia dan sujud syukur. Keesokan harinya saya dan suami ke dokter kandungan. Dokter menyatakan saya hamil dengan 6 minggu. Alhamdulillah... saya dan suami sangat bahagia mendengarnya.

Kehamilan saya lalui dengan tidak mudah karena mengalami mual muntah serta badan lemas dan kepala pusing. Saya tidak bisa beraktivitas padahal waktu itu pesanan craft sedang banyak. Akhirnya saya tutup sementara usaha saya karena ingin fokus pada kehamilan. Alhamdulillah suami sangat mendukung. Bahkan ketika saya tidak dapat mengerjakan pekerjaan rumah tangga maka suami yang mengerjakannya. 

Memasuki trimester kedua, badan saya sudah lebih enakan. Saya bisa makan beberapa makanan yang saya suka, walau di kota ini saya tidak mendapat makanan yang diinginkan. Sampai usia kandungan 7 bulan, saya masih mual muntah tapi tetap sering ikut suami jika beliau sedang dinas di luar kota. Ketika usia kandungan saya 8 bulan menjelang 9 bulan, nafsu makan saya meningkat karena orang tua saya datang. Ibu memasak makanan kesukaan saya. 

Tiap hari saya perbanyak jalan-jalan pagi, mengepel lantai dengan posisi kepala dan dada sangat rendah, memperbanyak sujud dan saya sudah merasakan kontraksi-kontraksi palsu sejak usia kandungan saya 8 bulan. Ketika kandungan berumur 40 minggu lebih 5 hari, saya melahirkan putra pertama secara normal dengan berat 3,8 Kg dan panjang badannya 52 cm. Putra kami ini kami beri nama Dzulfikar Ihsan Pradhika. Senangnya ... 

Jadi, bagi pembaca yang lama belum dikaruniai momongan, tetaplah berusaha dan berdoa. Setelah itu pasrahkan pada Allah, tetaplah yakin bahwa suatu saat Allah akan memberikan amanah itu.

Dimuat dalam buku Nikmatnya Jadi Ibu (27 Aksara, 2015)

Penulis: Puput Ravika Yunita, ST. Lahir di Gresik 20 Juni 1984, putri pertama dari 2 bersaudara. Istri dari Danny Setyapradja, ST dan ibu dari Dzulfikar Ihsan Pradhika. Ibu rumah tangga yang memiliki hobi kuliner, memasak, dan berkreasi ini menjalankan usaha di bidang craft disela-sela kesibukannya sebagai IRT. Alumni Arsitektur ITS ini bercita-cita menjadi crafterpreneur yang sukses. Beberapa karya kreasinya bisa dilihat di Fb : Little Chiq dan blog: littlechiq.blogspot.com. Akun Fb : Puput Ravika Yunita, Domisili: Purwokerto

Puput Ravika Yunita
Akan selalu menjadi ingatan yang indah, benar-benar terindah, ketika Tuhan menjawab doa di saat kami berada pada level pasrah. Hampir 2 tahun usia pernikahanku dengan suami, waktu yang begitu lama. Sebelumnya pertanyaan sanak keluaraga dan orang-orang sekitar mengenai kapan aku bisa hamil, hanya bisa kuberi jawaban singkat dan senyuman hangat. Tak sedikit pula yang turut mendoakan agar buah hati hadir di antara kami. Hingga masa itu tiba ... 

Aku benar-benar terkejut, haru, bahagia sekaligus bingung. Semua rasa bercampur menjadi satu. Masih kuingat, Februari menjadi bulan pertama kali kuketahui kalau ada janin dalam rahimku. Berulang kali kuucap syukur. Alhamdulillah, Tuhan memberi kepercayaan kepadaku. Aku merasa menjadi wanita yang sempurna. Sejak itu kujaga janin dengan sebaik mungkin dengan mengatur pola makan, pola tidur dan memeriksakan kandungan ke dokter secara rutin. 

Seperti ibu hamil pada umumnya, pada minggu pertama kehamilan kurasa banyak sekali hal yang tidak seperti biasanya. Ada mual, pusing serta badan lemas sehingga mudah mengantuk. Namun semua itu mampu kulewati dengan baik, aku bahagia, sangat bahagia. Semakin kunikmati kehamilan hingga makanan apapun yang masuk ke perutku tidak termuntahkan lagi. Timbangan berat badan dan juga janin di rahimku naik! Aku tak peduli dengan postur tubuh yang menjadi agak gemuk. Yang ada dalam pikiranku hanyalah kesehatan janin. 

Bila biasanya menunggu menjadi pekerjaan yang sangat membosankan, tidak untuk kegiatan yang satu ini. Kunikmati gerakan-gerakan halus yang kadang membuatku geli. Tendangan-tendangan lembut juga membuatku kaget dan tertawa sendiri. Subhanallah ... Sungguh aku sangat menikmatinya. 

Sampai detik-detik persalinan tiba, tak ada yang menjadi kekhawatiranku. Pun dari segi medis, keadaanku saat itu layaknya ibu mau melahirkan pada umumnya. Aku masuk rumah sakit pada Kamis tanggal 29 November 2012 jam 4 sore, sedangkan bayi mungilku lahir dengan proses normal pukul 23.30 WIB. Kekhawatiranku baru muncul saat bayi mungilku lahir tanpa tangisan, namun hanya sekejab karena kemudian masalah teratasi.

Alhamdulillah ... kebahagiaan yang luar biasa saat bayi mungilku hadir menjadi bagian keluarga kecilku. Kami beri nama "Naura Faaza Putri Purnamajaya". Arti masing-masing namanya: Naura yakni bunga, Faaza adalah beruntung, Putri sebagai anak perempuan dan Purnamajaya mengikuti nama ayahnya. Harapanku dan suami hanyalah semoga menjadi anak yang solehah, banyak rezeki, berkah usianya dan mampu dibanggakan serta diandalkan. Amiin.

Dimuat dalam buku Nikmatnya Jadi Ibu (27 Aksara, 2015)

Penulis: Nurrohmah, pemilik akun facebook Zhe Pooja Rahma. Lahir di Karawang, 08 Januari 1987. Guru yang gemar selfie bareng anak-anak ini tinggal di jalan Cilengkrang 2 gg. Arman 1 No. 86 RT.04/02 PaLasari-Cibiru-Bandung.

Nurrohmah

Duh, tak terbayang betapa bahagianya waktu tahu aku hamil. Begitu penuh onak duri waktu yang sekian lamanya harus kulalui. Apalagi pada tahun 2007, saat periksa ke dokter spesialis ginekologi, aku didiagnosa mengidap kista coklat dan sudah besar di kanan-kiri ovariumku. Dokter menyarankan untuk dilakukan operasi. Tapi aku belum berani, hanya terus mencoba pengobatan alternatif. Sampai akhirnya bosan dan jatuh dalam kepasrahan. 

Di April 2013, rasanya sudah 4 – 6 hari aku telat menstruasi. Aku masih belum juga melakukan tes kehamilan. Teman di kantor sudah memotivasi agar aku segera beli testpack. Tapi belum juga terbeli karena dulu sudah terlalu sering kulakukan dan hasilnya selalu negatif. Pada hari ketujuh jam 2 siang, aku pulang kantor lebih awal dari hari biasanya. Sabtu itu aku dipaksa teman lagi untuk beli testpack kehamilan. Akhirnya kuturuti, membelokkan motor ke apotek dan membeli yang paling murah. 

Ternyata hasilnya 2 garis merah. Positif! Aku termangu, belum sepenuhnya percaya. Kuambil telpon genggam, menelepon suami untuk meminta tolong dibelikan alat tes kehamilan yang paling mahal dan lebih akurat. Segera kutes lagi saat suami tiba. Lagi-lagi hasilnya 2 garis merah. Dua alat test itu kuserahkan pada suami. 

“Alhamdulillah Yaa Allah ...” kata suamiku dengan mata berkaca-kaca.

Hari Senin, aku mendaftarkan diri untuk periksa di salah satu klinik dokter kandungan di kotaku. Saat namaku dipanggil, aku masuk ke ruangan periksa lalu menceritakan semuanya. Dokter segera melakukan USG. Dari penjelasan dokter, aku memang positif hamil karena sudah terlihat kantong kehamilan di rahimku. Tapi dokter berpesan agar aku berhati-hati karena masih mengidap kista. Sewaktu-waktu jika kehamilanku bertambah besar, kista bisa terpluntir atau bahkan bisa pecah. Aku harus rajin memeriksakan diri. 

Seiring berjalannya waktu, aku masih tetap menjalankan aktivitas sehari-hari, yakni pergi ke kantor. Masih sering juga ke luar kota untuk konsul proposal tesis karena memang sedang meneruskan pendidikan. Sebulan sekali aku juga periksa ke dokter, hasilnya luar biasa. Janinku baik-baik saja meski harus berdesakan dengan kista. Kistanya juga tidak bertambah besar. Padahal biasanya ada kista yang ikut membesar seiring dengan membesarnya janin dalam rahim.

Di Juni 2013, bolak balik aku ke luar kota. Selain konsul proposal tesis, juga mengurus administrasi seminar dengan perjalanan yang cukup melelahkan dan kondisi jalan yang tidak bagus. Di kampus pun masih harus naik-turun tangga demi menemui pembimbing. Belum lagi minta tanda tangan pembimbing, menggandakan proposal, nyebar undangan ke penguji. Ah, sampai rumah alhasil letih sekali. Aku pun flek-flek. 

Bersama suami, aku langsung periksa ke dokter kandungan karena khawatir dengan perdarahan yang terjadi. Aku diagnosa Abortus Immines, keguguran awal yang masih dapat dipertahankan. Lemas seketika badan ini saat mendengarnya. Aku diberi obat dan dianjurkan bedrest. Namun esok harinya terpaksa aku tetap maju ujian proposal tesis, benar-benar dengan hati-hati sekali. Setelah 2 minggu bedrest, kehamilanku dapat terus berjalan.

Ketika Juli 2013, seiring bertambah usia kehamilan, semakin nyaman pula aku dengan kehamilan ini. Walau masih bisa bekerja seperti biasa, oleh suami aku diminta cuti kuliah 1 tahun. Demi si buah hati, aku menurut. Si baby di dalam rahim juga tumbuh dengan baik. Bahkan dokter mengatakan bahwa janinku terhitung gemuk. Happy rasanya.

Nah ... Senin, 25 November 2014, aku habis mudik ke tempat ibu. Mungkin kecapaian hingga perut bagian bawah terasa nyeri semalaman. Tapi masih kutahan karena berpikir usia kehamilan baru 8 bulan atau 36 minggu. Pagi itu, aku masih berangkat ke kantor, ada jadwal penyerahan mahasiswa praktik di RSUD Dr. Soedjati Purwodadi Grobogan. Karena dekat, aku berangkat naik motor. Tapi saat acara, nyeri perut semakin terasa. Di akhir acara, aku segera balik ke kantor. 

Rasanya perut bagian bawahku ini semakin nyeri. Kuhubungi suami minta dijemput. Kami lalu berangkat memeriksakanku ke dokter. Dokter bilang aku harus segera dioperasi karena kista yang ada di rahimku tertekan oleh janin dan karena adanya ari-ari yang menutup jalan lahir (plasenta previa totalis) sehingga tidak mungkin bisa melahirkan secara normal. Mendengarnya, perasaan ini campur aduk! Kami lalu pulang dulu untuk ngurus surat cuti serta persiapan untuk masuk rumah sakit. 

Setelah semua siap, diantar suami aku masuk IGD. Setelah diperiksa kemudian diantar lagi untuk masuk ruang bersalin. Dilakukan ini-itu sebagai tindakan untuk persiapan operasi sectio caesaria (SC) besok paginya. Hingga Selasa, 26 November 2014, aku pun masuk ruang operasi. Alhamdulillah ... lahir juga anak yang kami tunggu. Laki-laki, ganteng, beratnya 2600 gram dengan panjang 48 cm. Bayinya normal walau harus dilahirkan di usia kehamilan 36 minggu.

Bahagia rasanya aku beserta keluargaku. Sungguh pengalaman yang sangat luar biasa. 

Bagi ibu-ibu penderita kista, jangan patah semangat karena perlu waktu lama untuk mendapatkan buah hati. Pasrahkan saja, ikhlas dan terus berusaha. Ketika hamil juga harus rajin periksa ke tenaga kesehatan, terutama dokter. Dengan demikian akan selalu ada pengawasan demi kebaikan masa kehamilan.

Dimuat dalam buku Nikmatnya Jadi Ibu (27 Aksara, 2015)

Penulis: Sri Martini, S.Si.T , M.Kes., dilahirkan di Gubug Grobogan tanggal 22 September 1976, istri dari Abdul Harits, ST., putri kedua dari 4 bersaudara Alm. Soetardjo. Penulis adalah seorang ibu dari Muhammad Aditya yang lahir pada tanggal 26 November 2013 yang cerita saat kehamilannya tertuang dalam buku ini. Penulis selain sebagai ibu rumah tangga juga bekerja sebagai dosen di Akademi Kebidanan An Nur Purwodadi. Penulis menyelesaikan studi dari Akbid Depkes Magelang tahun 2001, Gelar Sarjana Science Terapan diperoleh pada tahun 2003. Gelar Magister Kesehatan baru saja diselesaikan pada 2014. Penulis adalah seorang yang gemar membaca, penyuka seni terutama singing. Penulis ingin terus mengembangkan kemampuannya menulis karena bercita-cita ingin membuat buku terutama buku-buku tentang kesehatan. Penulis sekarang tinggal di Perum Griya Alam Recidence Blok B2 Sukorejo Toroh Grobogan Jateng.

Sri Martini

Semuanya adalah pengalaman pertama bagiku. Pada 10 Juni 2012, aku menikah dan pada bulan kedua pernikahan, aku positif hamil. 

Sebelumnya, pada seminggu usai pernikahan, tiba-tiba aku demam. Karena ketika itu dalam kondisi haid, nyeri haid pun tak tertahankan sampai aku muntah-muntah. Ini adalah sakit terparah setelah sekian tahun. Bunda kemudian mengajak ke klinik terdekat, hasilnya hanya demam, maag dan nyeri haid biasa. Setelah masa haid selesai, nyeri dan demam berkurang. Namun pusing dan mual masih terus ada, perasaan lemah serta mudah lelah muncul. 

“Aku ini kenapa?”

Ternyata ini efek hamil! Menjadi ibu hamil adalah idamanku sejak dulu. Kesannya lucu, ada banyak keluhan yang dirasa. Anehnya, makin lama kian bertambah payah yang dirasa. Hingga pada trimester akhir, dokter menyarankan untuk cek kesehatan lengkap.

“Hasil tes menyatakan protein ibu +2,” ujar dokter. Aku dan suami bengong. “Ini menyebabkan Preeklamsia atau keracunan kehamilan.” Seolah mengerti akan reaksi kami, dokter itu pun tersenyum. “Jangan khawatir. Ibu diet ya, kurangi konsumsi garam. Semoga bisa membantu dan nantinya dapat melahirkan secara normal.”

Berat badanku memang naik lebih dari 100% dari sebelum hamil. Bila sebelum hamil sekitar 35-37 Kg, setelah trimester 3 malah jadi 75 Kg. Seluruh badan bengkak, mulai dari muka sampai ujung kaki. Kalau sedang duduk lesahan kemudian bangkit, harus memakai bantuan karena tidak bisa bangun sendiri. Rasanya tidak kuat menopang badan, kaki sering kram. Anehnya, tekanan darah hanya seputaran 90/100 mmHg, bertahan segitu hingga masa mau melahirkan.

Soal konsumsi garam, sebenarnya di awal kehamilan sudah diingatkan oleh teman-teman. Dulu sebelum hamil, tiap makan buah entah itu apel, anggur, melon, semangka, apapun jenis buahnya selalu pakai garam. Saat hamil sudah tidak lagi. Tapi sebelum menikah, ketika kuliah dan jarang pulang ke rumah, aku selalu bawa kecap asin dalam tas karena warung makan jarang yang sedia kecap asin. Pokoknya dulu aku mania asin. Inilah pentingnya menjaga kesehatan dari usia dini sebelum menikah, karena kesehatan bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk anak-anak yang dikandung dan dilahirkan kelak.

Tanggal 26 Maret 2013 mendekati masa Hari Prediksi Lahiran (HPL), pukul 07.00 WITA keluar bercak darah, tapi hanya sedikit. Kebetulan rumahku bersebelahan dengan rumah mertua, jadi kusampaikan pada beliau. Katanya itu adalah tanda mau melahirkan, jadi aku disarankan tak perlu masuk kerja. Karena aku tidak suka tinggal di rumah sendirian, suami tetap mengantarkanku ke kantor. 

Pukul 11.00 WITA, saat di kantor, darah yang keluar semakin banyak. Suami lalu menjemputku dan membawaku ke puskesmas terdekat. 

“Ini harus segera dibawa ke rumah sakit,” kata bidan yang memeriksa saat itu. “Sudah positif keracunan kehamilan. Kalau dipaksa lahir normal nanti ibunya bisa kejang saat mengejan. Takutnya anaknya ikut kejang, bisa meninggal dua-duanya.” 

Aku dan suami saling berpandangan. Perasaan gugup dan takut menyelimuti hati kami. Dibantu oleh bidan senior di puskesmas tersebut, kami memutuskan untuk ke Klinik Ibu dan Anak yang ada di Samarinda, tepat biasa kami chek up tiap bulannya. 

Setibanya di sana, aku disambut seorang perawat. Pukul 14.00 WITA, dokter mengecek pembukaan dan tak ada pembukaan sedikitpun. Mereka tidak berani memberikan suntik rangsangan agar terjadi pembukaan karena khawatir aku mengalami kejang yang berakhir fatal. Kemudian jam 9 malam, aku masuk ruang operasi dan tak lama kemudian bayi pertama kami lahir. Ia bayi laki-laki yang sehat dengan tangisan kencangnya. 

Mendengar tangisan itu, tiba-tiba aku teringat bahwa sedang berada di meja operasi dan perutku sekarang pasti terbuka lebar. Rasa takut dan panik akibat khayalan aneh membuatku histeris lalu pingsan. Usai berpakaian lengkap, aku baru sadarkan diri dan dibawa ke ruang recovery. Semua sudah terlewati, bayi yang dinanti hadir di sisi, selanjutnya tinggal pemulihan pasca operasi.

“Tadi ibunya sempat stres dan histeris hingga pingsan, Pak. Tapi sekarang sudah baik-baik saja, kok,” ujar perawat yang mengadu ke suamiku. Eh tepatnya memberi informasi, kali’ yaa... “Ibu banyak-banyak minum air putih. Nanti kalau air kencingnya sudah bening, berarti obatnya sudah habis. Setelah itu baru kami lepas catheter-nya.” Perawat ramah itu juga menjelaskan perihal selang kencing sambil memberikan beberapa obat yang harus kuminum saat itu.

Alhamdulillah wasyukrillah... Allah memberi kesempatan hingga kami berkumpul membina keluarga sakinnah, mawadah, warahmah. Semoga bisa diambil hikmah dan dapat menjaga kesehatan mulai dari sekarang untuk mendapatkan generasi yang sehat jasmani juga rohaninya.

Dimuat dalam buku Nikmatnya Jadi Ibu (27 Aksara, 2015)

Penulis: Mariatul Kiftiah, Tenggarong, Kalimantan Timur.

Mariatul Kiftiah
Pada kehamilan pertama, saya tinggal di rumah mertua. Saya masih belum tahu apa saja tarakan atau pantangan bagi ibu hamil. Saat itu saya suka sekali es krim magnum. Tiap suami pulang kerja, saya selalu minta dibelikan. Nah saat kehamilan memasuki bulan ke-2, kegemaran saya ini ketahuan mertua. Beliau marah-marah. Saya hanya bisa diam, tapi tetap memakan es krim secara sembunyi-sembunyi.

Saat kandungan memasuki trimester 3, badan terasa panas. Inginnya mandi terus, tak peduli jam 12 malam sekalipun. Karena kamar mandi di rumah mertua ada di belakang, jadi harus keluar rumah sendirian sebab kasihan bila membangunkan suami. Usai mandi, saya minum air es di kulkas, bawaanya haus terus. 

“Kalau kena asam urat, gimana?” omel mertua.

Beruntung yang ketahuan mertua hanya ritual mandi malamnya. Kalau sampai mertua tahu kalau saya hobi minum es, pasti lebih dimarahi lagi. Susah juga ya ikut mertua. Namun karena ini bentuk sayang mertua, saya diam saja. Ritual mandi malam tetap dilakukan. Siapa sih yang kuat menahan gerah? 

Saat memasuki 8 bulan, dari jam 4 sampai jam 8 pagi, saya sakit perut. Rasanya pingin BAB. Akhirnya bolak balik ke kamar mandi. Capek! Kalau bukan lagi di rumah mertua, pasti ngedon di WC. Nah masalahnya mertua meminta saya goreng telur untuk sarapan suami, sedangkan mertua pergi belanja. Saking tak kuasa menahan mules, usai ceplok telur di atas penggorengan, langsung saya tinggal ke kamar mandi. Lagi enak-enaknya jongkok, tiba-tiba ada teriakan yang mengagetkan.

“Nitaaaa ... kamu kemanaaaa?”

Sontak saya lari ke arah dapur karena teringat telur yang belum diangkat dari penggorengan. Niat awal bikin telur mata sapi, yang jadi malah mata hantu. Beruntung amarah mertua reda setelah saya ceritakan apa yang terjadi. Dengan bergegas, mertua malah membawa saya bidan dengan diantar suami. 

Hasil pemeriksaan menunjukkan kalau sudah ada pembukaan 4. Hingga akhirnya pukul 15.15 WIB, saya melahirkan. Sesaat sebelum melahirkan, ada kejadian menarik. Saya berkali-kali minta diantar suami ke kamar mandi, padahal dilarang oleh bidan. Nah saat disuruh mengejan, saya bilang, “Bu Bidan, eek saya mau keluar. Huff, huff, huff ...” 

“Tidak apa-apa. Ayo terus mengejan, keluarkan saja kotorannya,” jawab bidan.

Suami saya menangis melihat saya kesakitan.

Saya terus meminta agar diantar ke kamar mandi. Walau demikian, juga terus mengejan hingga bayi yang saya kira eek keluar dengan bobot 2900 gram. Keluarga tidak ada yang mengira kalau bayi saya sebesar itu, dikira prematur karena memang usia kandungannya belum genap 9 bulan.

Melalui pengalaman ini, saya berpesan kepada para calon ibu agar tak perlu takut mengkonsumsi es. Mungkin karena saya sering minum es jadi bayinya besar. Tapi jangan terlalu sering, nanti bisa batuk. Kemudian ibu hamil tidak boleh mandi malam karena dapat menimbulkan rematik. Setelah sebulan pasca melahirkan, kaki saya sakit sekali bila dipakai jalan. Akhirnya tiap hari dikasih parutan jahe sama suami. Beruntung sekarang normal kembali.

Dimuat dalam buku Nikmatnya Jadi Ibu (27 Aksara, 2015)

Penulis: Nita, berkelahiran di Malang, 25 April 1991. Ibu rumah tangga ini tinggal di DS. Kebobang RT.1 RW.1 Kec. Wonosari/ Gunung Kawi Kab. Malang, Jawa Timur.

Nita
OlderStories Home